Kapan diperjuangkan agar halalnya?

Membuat pilihan merupakan langkah awal untuk memersempit peluang takdir jodoh kita. Besar kemungkinan takdir jodoh kita berada diantara pilihan kita. Seperti halnya rezeki yang telah ditakdirkan sejak dalam kandungan. Tetapi kita bisa mengusahakan takdir kita seperti apa. Contohnya ketika kita ingin menjadi orang kaya. Maka kita akan mengusahakan untuk menjadi orang kaya. Entah bagaimanapun caranya. Bisa jadi dengan cara bekerja keras untuk menjadi orang kaya. Tetapi ketika ingin menjadi orang yang sederhana tentu akan bekerja dengan sedikit santai. Sepeti halnya dengan jodoh, ketika kita ingin mendapatkan jodoh yang baik sekali, maka usaha kita ialah menjadi orang yang baik dan bergaul dengan orang-orang baik. Tetapi semuanya keputusan akan kembali kepada Yang Maha Kuasa.

Jika sudah membuat pilihan namun tidak ada yang terpilih maka hal terebut menjadi ujian hidup. Tak selamanya hidup ini sejalan dengan harapan kita. Rasa marah, kecewa, bahkan benci bisa timbul dalam benak. Justru hal ini menentukan kualitas diri kita, apakah semakin meningkat atau justru memburuk. ketika kecewa, emosi dan prasangka yang buruk akan selalu ada dalam benak, hal tersebut secara perlahan akan memperburuk kualitas diri kita. Namun kita ikhlas dan rela dengan segala keputusanNya ketika kita sudah berusaha keras, secara tidak langsung kita mampu menangani masalah yang menimpa kita. Dimana ketika kita jatuh, kita bisa bangit dan seiap menghadapi ujian selanjutnya.

Pesan saya setiap untuk menentukan takdir kita, kita harus membuat pilihan untuk memilih satu. Setiap pilihan terdapat masalah yang datang. Setiap masalah yang datang menambah wawasan bagi kita. Serta mengingatkan pada kita untuk selalu berserah kepada Yang Maha Esa dalam setiap langkah hidup kita, seiring kita berusaha untuk menentukan jalan kehidupan kita. Disisi lain, dalam sebuah permasalahan atau kejadian, akan selalu ada jalan penyelesaian dan hikmahnya untuk bekal kedepannya.

Jangan takut Menikah...



Mengapa zina menyebar? Pacaran islami? Dalam islam apakah ada istilah pacaran islami?

Dalam islam tidak ada pacaran yang islami, kecuali pacaran setalah menikah. Di negeri ini (Indonesia) sudah marak dengan istilah pacaran islami. Mengapa demikian, hal ini desebabkan mereka yang menghalalkan pacaran islami, belum paham bahwa pernikahan tidak ada hubungannya dengan prestasi dunia. Tidak ada hubungannya dengan menjadi sarjana dulu, punya pekerjaan, punya rumah pribadi, punya mobi dan lain lain. Ketika ada yang beranggapan menikah ketika sudah mempunyai prestasi dunia, misalkan punya rumah, punya pekerjaan, mereka akan bertanya istriku akan diberi makan apa kalo tidak ada pekerjaan yang mapan.

Padahal nabi Muhammad SAW sudah menjamin dalam sebuah hadist
“ 3 golongan yang pasti di beri rezeki oleh Allah, yang pertama yaitu orang Mujahid yang berperang di jalan Allah, padahal setiap hari berperang untuk membela agama Allah, membutuhkan perluru untuk berperang, namun tidak akan ada habisnya. Entah itu mendapakan peluru dari mana! Namun Allah sudah memberi rizki kepada golongan Mujahid. Kedua orang Mukatip yang berarti hamba sahaya yang ingin bebas dari perbudakan. Ketika di zaman nabi terdapat istilah perbudakan. Karena ketika mengalami kekalahan perang maka yang kalah akan menyerahkan prajurit kepada yang menang atau menyerahkan harta rampasan perang kepada yang menang. Terdapat kisah nabi, dimana seorang hamba sahaya ingin terbebas dari perbudakan, maka ia menebus dengan uang, namun karena seorang budak tidak mempunyai uang yang cukup, maka seorang hamba sahaya tersebut membayar uang denda dengan mengangsur. Dengan keutusan mengangsur tersebut Allah akan memberikan rezeki kepada seorang hamba sahaya, karena dengan membebaskan seorang budak Allah akan mengampuni dosa-dosa yang pernah diperbuat. Golongan yang ketiga ialah orang yang mennikah. Karena dengan menikah orang akan terhindar dari zina yang akan merugikan dirinya. Ketika seseorang menjaga kesucian dan kehormatanya maka Allah akan memberinya rizki"

Maka hal ini tidak ada hubungan dengan prestasi dunia. Dimana ketika seseorangg ingin menikah harus lulus kuliah, harus mempunyai pekerjaan, harus mempunyai rumah yang mewah dan lain-lain. Justru hal ini akan memperlambat seseorang untuk menunaikan pernikahan.

Rasul juga memerintahkan kita untuk menikah dengan pasangan yang setara. Supaya aman dalam menjalani kehidupan. Orang yang setara tentang keuangannya, setara pendidikannnya, setara bahasanya, setara tingginya.

Maka daripada berzina, lebih baik menikah


 

Sumber gambar : http://www.alansaar.org.uk/nikah-service/